Wawancara Kerja
JASMAN SAMSU wrote:
>Dari milis sebelah ….
>
>—–Original Message—–
>From: John [mailto:mazsuez@yahoo.com.sg]
>Sent: Monday, July 25, 2005 3:11 AM
>To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
>Subject: [Oil&Gas] (HRD) Fresh Graduate- WAWANCARA KERJA
>
>
>WAWANCARA KERJA
>Menjawab dengan cerdas, taktis dan optimis
>
>
>Meski anda merasa pintar dan brilian, jangan keburu yakin bahwa semua
>pintu
>perusahaan akan terbuka secara otomatis untuk anda. Sebab kenyataannya,
>para
>tuan dan nyonya pintar ini seringkali gagal dalam wawancara. Alasannya ?
>tidak
>smart dan taktis dalam menjawab pertanyaan.
>
>1. Ceritakan tentang diri anda
>
>Erina Collins, seorang agen rekruitmen di Los Angeles menyatakan
>seringkali
>ada perbedaan yang mengejutkan antara ketika kita membaca lamaran
>seseorang
>dengan saat berhadapan dengan si pelamar.
>
>”Pengalaman menunjukkan, surat lamaran yang optimis tidak selalu
>menunjukkan
>bahwa pelamarnya juga sama optimisnya,” kata Erina. Ketika pewawancara
>menanyakan hal yang sederhana seperti “Di mata anda, siapa anda?”
>atau “Ceritakan sesuatu tentang anda”, banyak pelamar menatap
>pewawancaranya
>dengan bingung dan lalu seketika menjadi tak percaya diri.
>
>”Saya merasa biasa-biasa saja” atau “tak banyak yang bisa saya ceritakan
>
>tentang diri saya” seringkali menjadi jawaban yang dipilih pelamar
>sebagai
>upaya merendahkan diri. Selama ini banyak artikel karir konvensional
>yang
>menyarankan agar anda sebaiknya merendahkan diri sebisa mungkin, sebagai
>upaya
>mencuri hati si pewawancara. “Tapi ini jaman modern. Jawaban yang
>terlalu
>merendah dan banyak basi-basi hanya menunjukkan bahwa anda sebenarnya
>tidak
>yakin dengan diri anda. Dan perusahaan masa kini tidak butuh karyawan
>seperti
>itu,” tegas Erina.
>
>Pengalaman Eliana Burthon, staf humas sebuah hotel berbintang di New
>York
>mungkin menarik untuk disimak. Ketika pewawancara memberinya satu menit
>untuk
>bercerita tentang dirinya, Eliana mengatakan “Saya Eliana Burthon, anak
>pertama dari lima bersaudara. Sejak SMA, saya aktif di koran sekolah.
>Disitu
>saya menulis, mewawancarai orang-orang di sekitar saya dan berhubungan
>dengan
>mereka. Dari situ saya sadar alangkah menariknya bisa bertemu dengan
>orang
>banyak, berdiskusi dan mengetahui banyak hal dari mereka. Diluar itu,
>saya
>senang musik, membaca dan traveling.Ketika kuliah, saya sering menulis
>pengalaman jalan-jalan saya, atau sekedar memberi referensi kaset yang
>sedang
>laris untuk koran kampus saya.”
>
>Meski tak memberikan jawaban yang berbunga-bunga, apa yang diungkapkan
>Eliana
>tentang dirinya menunjukkan bahwa dirinya terbuka, ramah dan punya rasa
>ingin
>tahu. “Jawaban itu cerdas dan efektif untuk menggambarkan bagaimana dia
>menyatakan secara implisit bahwa dirinya merasa layak ditempatkan di
>posisi
>yang diincarnya. Pewawancara butuh jawaban seperti itu. Cukup singkat,
>tapi
>menunjukkan optimisme yang alamiah,” kata Erina Collins.
>
>Kalau anda dipanggil untuk wawancara, sebisanya persiapkan diri dengan
>baik.
>Rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa anda menjadi diri sendiri adalah
>yang
>terpenting. Pewawancara tidak butuh jawaban yang berbunga-bunga,
>berapi-api
>apalagi munafik.
>
>Pada kesempatan pertama, mereka biasanya ingin melihat bagaimana si
>pelamar
>menghargai diri sendiri. Sebab itu, buatlah beberapa poin tentang
>kemahiran
>anda, hal-hal yang anda sukai dan inginkan untuk masa depan anda. Kalau
>telah
>menemukan poin -poin itu, berlatihlah mengemukakan semua itu dalam
>sebuah
>jawaban singkat yang cerdas dan optimis.
>
>2. Hati-hati pertanyaan jebakan
>
>Siapapun idealnya tak suka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
>memojokkan.
>Tapi begitulah kenyataannya ketika anda diwawancara. Seringkali banyak
>hal tak
>terduga yang dilontarkan si pewawancara dan membuat anda seringkali
>kelepasan
>bicara.
>
>Dalam hal ini, Erina memberi contoh pengalamannya ketika mewawancarai
>seorang
>pelamar tentang mengapa ia memutuskan pindah kerja.
>
>”Ketika itu saya tanya ‘apa yang membuat anda memutuskan pindah kerja?
>tadi
>anda bilang, lingkungan kerjanya cukup nyaman kan?’ dan pelamar itu
>menjawab ’saya tidak suka bos saya. Seringkali ia membuat saya jengkel
>dengan
>pekerjaan-pekerjaan tambahan dan itupun tidak membuat gaji saya naik.’
>Saya
>lalu berpikir, apa yang akan dia katakan jika suatu saat keluar dari
>perusahaan saya tentulah tak beda buruknya dengan apa yang dia ungkapkan
>pada
>saya tentang perusahaan lamanya,” ungkap Erina.
>
>Poinnya, taktislah dalam memberi jawaban. Jangan pernah memberi jawaban
>yang
>menjelekkan tempat kerja anda yang lama atau apapun yang konotasinya
>negatif.
>Lebih baik kalau anda menjawab “saya menginginkan ritme kerja yang
>teratur dan
>terjadwal.
>
>Mengenai gaji, sebenarnya di tempat kerja yang lama tak ada masalah,
>tapi
>tentu saya senang kalau ada peluang untuk peningkatan gaji.” Atau kalau
>anda
>ditanya tentang kelemahan anda, lebih baik tidak menjawab “saya sering
>telat
>dan lupa waktu.” Tetapi jawablah lebih taktis, misalnya “kadang saya
>memang
>pelupa, tetapi beberapa waktu ini sudah membaik karena saya selalu
>mencatat
>segalanya di buku agenda.” atau “saya sering kesal kalau kerja dengan
>rekan
>yang lamban, tetapi sebisanya kami berdiskusi bagaimana caranya
>menyelesaikan
>kerja dengan lebih cepat.”
>
>Dalam wawancara, si pewawancara selalu berupaya mengorek sedapat mungkin
>
>tentang kepribadian pelamar. Kadang pertanyaan sepele seperti “Sudah
>punya
>pacar? Ada niat menikah dalam waktu dekat?” sering ditanggapi buru-buru
>oleh
>si pelamar dengan menjawab misalnya “Sudah, rencananya kami akan menikah
>akhir
>tahun ini.” Padahal, menurut Erina, jawaban itu bisa jadi penutup
>peluang
>kerja anda. “Perusahaan selalu ingin diyakinkan bahwa calon karyawannya
>hanya
>akan fokus pada pekerjaan mereka, terutama pada awal masa kerja. Jawaban
>bahwa
>anda akan menikah dalam waktu dekat justru menunjukkan bahwa perusahaan
>bukanlah fokus anda yang sebenarnya, tetapi hanya seperti selingan,”
>ujar
>Erina sambil menambahkan bahwa akan lebih baik kalau anda menjawab
>”sudah,
>tapi sebenarnya saya ingin mempunyai pengalaman kerja yang cukup sebelum
>
>memutuskan untuk menikah.”
>
>3. Semangat dan bahasa tubuh
>
>Dalam wawancara kerja, penampilan memang bukan nomor satu tetapi menjadi
>
>pendukung yang ikut menentukan. Karena itu selain berpakaian rapi, tidak
>
>seronok, mencolok atau banyak pernik, tunjukkan bahasa tubuh yang baik.
>Jangan
>pernah melipat tangan di dada pada saat wawancara, karena memberi kesan
>bahwa
>anda seorang yang kaku dan defensif. Idealnya, tangan dibiarkan bebas
>untuk
>mengekspresikan kata-kata anda, tentu saja dengan tidak berlebihan.
>
>
>Selama wawancara berlangsung, buatlah kontak mata yang intens. Pelamar
>yang
>sering membuat kontak mata menunjukkan keinginan untuk dipercaya serta
>kesungguhan memberikan jawaban. Rilekslah dan sesekali tersenyum untuk
>menunjukkan bahwa anda pribadi yang hangat. Umumnya, perusahaan menyukai
>
>pelamar yang menyenangkan. Kurangi kata-kata “saya merasa…” atau “saya
>
>kurang…” dan sebaiknya gunakan “saya pikir…”, “menurut pendapat
>saya..”, “saya yakin…”, “saya optimis…”. Kata-kata “saya merasa …”
>
>atau “saya kurang…” mengesankan anda lebih sering menduga, menggunakan
>
>perasaan, tidak terlalu percaya diri dan tidak menguasai persoalan.
>
>Cara berpakaian yang baik dalam wawancara
>
>Berpakaian yang “baik” dalam wawancara memang tidak dapat
>digeneralisasikan
>karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan-kebiasaan/budaya perusahaan
>yang
>berbeda. Namun, ada beberapa tips yang dapat diingat, antara lain:
>
>. Cari informasi terlebih dahulu tentang perusahaan dan Bapak/Ibu yang
>akan
> mewawancarai anda. Beberapa perusahaan memiliki peraturan atau
>”kebiasaan”
> berpakaian secara formal, tetapi ada juga yang semi formal, atau
>bahkan ada
> yang bebas. Hal ini penting, agar anda tidak dilihat sebagai “orang
>aneh’,
> disesuaikan dengan posisi yang akan dilamar. Bagi pelamar pria
>disarankan
> menggunakan kemeja lengan panjang dan berdasi, tidak perlu menggunakan
>jas.
> Berpakaian rapih dan bersih, tidak kusut. Hal ini memberi kesan bahwa
>anda
> menghargai wawancara ini.
>
>. Berpakaian dengan warna yang tidak terlalu menyolok (mis.,mengkilap,
> ngejreng).
>. Bagi pelamar wanita berpakaian yang tidak terlalu ketat (rokbawah,
>kancing
> baju atasan).
>. Berpakaian dengan disain yang simple (tidak telalu banyak
>pernik-pernik,
> toch ini bukan acara pesta).
>. Tidak berlebihan dalam menggunakan wangi-wangian dan perhiasan.
>
>
>Berapa gaji yang anda minta ?
>
>Bila dalam wawancara, Anda ditanya berapa gaji yang anda inginkan,
>bagaimana
>cara menjawab pertanyaan itu dengan baik tanpa menimbulkan kesan bahwa
>Anda
>pencari gaji tinggi atau memberi kesan berapapun imbalan yang diberikan
>Anda
>mau.
>
>Pada umumnya perusahaan sudah mempunyai rentang standar gaji untuk
>jabatan- jabatan yang ditawarkan. Bagi pelamar untuk posisi yang lebih
>tinggi dan
>langka biasanya memiliki kekuatan tawar menawar yang lebih tinggi. Jadi
>dalam
>menjawab pertanyaan tersebut anda harus memperoleh gambaran dulu imbalan
>total
>yang akan anda terima dalam setahun. Imbalan total adalah gaji dan
>tunjangan
>lain yang diberikan termasuk insentif dan bonus. Selain itu perlu
>ditanyakan
>apakah imbalan yang ditawarkan itu termasuk PPH atau netto.
>
>Dalam menjawab pertanyaan tersebut jawablah imbalan yang anda harapkan
>setahun. Berdasarkan harga pasar yang sesuai untuk jabatan tersebut
>serta
>nilai tambah yang anda miliki. Jawablah dengan diplomatis: ” Saya
>berpendapat
>perusahaan ini pasti sudah mempunyai standar imbalan bagi jabatan ini.
>Berdasarkan pengalaman yang saya miliki dan kontribusi yang dapat saya
>berikan pada perusahaan ini, saya mengharapkan imbalan yang akan
>diberikan
>adalah minimal Rp. …/tahun ditambah fasilitas-fasilitas lain sesuai
>dengan
>peraturan perusahaan.
>
>Negosiasi mengenai gaji pada saat ini tidak lagi dipandang tabu oleh
>sebagian
>besar perusahaan, namun anda diharapkan mengumpulkan informasi dulu
>agar
>dapat bernegosiasi dengan baik.
>
>Variasi pertanyaan dalam wawancara
>
>Bagi pelamar terutama bagi pemula pencari kerja perlu mempersiapkan diri
>dalam
>menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapi.
>
>Berikut ini kami berikan variasi-variasi pertanyaan yang kerap muncul
>dalam
>wawancara:
>
>Pertanyaan mengenai riwayat pendidikan :
>
>. Mengapa anda memilih jurusan tersebut?
>. Mata pelajaran apa yang anda paling suka, jelaskan alasannya. . Mata
>pelajaran apa yang kurang anda sukai, jelaskan alasannya. . Pada tingkat
>pendidikan mana anda merasa paling berprestasi, mengapa? . Apakah hasil
>ujian menggambarkan potensi anda, jelaskan? . Siapakah yang membiayai
>studi anda? . Bagaimana teman-teman atau guru mengambarkan mengenai diri
>anda? . Dalam lingkungan macam apakah anda merasa dapat bekerja paling
>baik?
>
>Pertanyaan mengenai pengalaman kerja :
>
>. Ceritakan mengenai pengalaman kerja anda
>. Bagi yang belum pernah bekerja pada umumnya diminta untuk menceritakan
>
> mengenai aktivitas ekstra kurikuler selama studi.
>. Pekerjaan manakah yang paling menantang bagi anda, mohon dijelaskan. .
>Pekerjaan manakah yang paling menantang bagi anda dan bagaimana anda
> menyelesaikan hal tersebut
>. Dengan kolega macam apakah anda senang bekerja sama?
>. Dengan boss macam apakah anda senang bekerja?
>. Bagaimanakah anda memperlakuan anak buah anda?
>
>Pertanyaan mengenai sasaran anda :
>. Mengapa anda ingin bekerja dalam industri ini?
>. Apakah yang mendorong anda melamar kepada perusahaan kami?
>. Apakah yang anda inginkan dalam 5 tahun mendatang?
>. Apakah yang anda inginkan dalam hidup anda?
>. Apa yang anda lakukan untuk mencapai sasaran anda?
>
>Pertanyaan mengenai organisasi yang ingin anda masuki :
>. Apakah yang anda ketahui tentang organisasi yang akan anda masuki? .
>Menurut anda faktor faktor sukses apa yang dibutuhkan seseorang untuk
> bekerja disini?
>. Apakah yang anda cari dalam bekerja?
>. Bagaimana anda dapat berkontribusi dalam perusahaan ini?
>. Menurut anda apa visi dan misi dari organisasi ini?
>
>
>Nah, siap bersaing di dunia kerja? Yang penting, persiapkan diri anda
>dengan
>baik dan jangan pernah meremehkan pertanyaan sekecil apapun dalam
>wawancara
>kerja. Selamat bersaing!
>
>
>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]




berhadapan langsung, suasananya beda banged dengan saat mengajukan tulisan. apalagi kalo langsung disuruh menerangkan diri sendir, puiiih kayak disuruh ngerjain ujian kalkulus tiga. susaaah banged! gak percaya?
Comment by frozi — July 29, 2005 @ 4:29 pm
Duuuh banyak bangeeed …
Comment by hafi — August 16, 2005 @ 8:59 am
olá, encontrei alguém com o meu sobrenome…
Comment by diego d' almagro da silva burthon — April 20, 2006 @ 4:03 pm
alguém tem esse nome???
Comment by diego d' almagro da silva burthon — November 17, 2007 @ 11:00 pm