Konflik Kepentingan
Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya dimana saya hari kamis malam sudah berada di Bandung. Hari jum’at ini saya masih harus berada di Jakarta untuk mempresentasikan pekerjaan yang diberikan kepada saya dan tim dihadapan Rektor, Dekan dan pejabat di Universitas.
Rapat yang dimulai pukul 13.30an ini diakhiri sekitar pukul 16.30, Sebenarnya tidak ada kerjadian yang istimewa. Karena dalam rapat tentunya ada beda pendapat dan sedikit brain storming. Tapi yang menyebalkan adalah ketika salah seorang peserta rapat ini memiliki dua kaki pada organisasi yang berbeda.
Saya bekerja pada perusahaan konsultan X. Seorang yang bernama A bertindak sebagai direkturnya. Pada saat kami melakukan presentasi di Universitas Z, A juga bertindak sebagai ketua yayasan.
Awal rapat tidak ada kejadian yang membingungkan. Tapi menjelang akhir, saya dan tim mengalami kerancuan yang luar biasa. Ternyata A tidak bisa membedakan ucapannya sebagai direktur perusahaan X dan sebagai ketua yayasan Z. Karena pada saat tertentu, beliau memposisikan sebagai ketua yayasan namun disaat yang nyaris bersamaan menjadi direktur.
Saya berusaha memfasilitasi kemauan A ketika ingin menambahkan fitur kedalam pekerjaan kami (bertindak sebagai user). Tapi ketika saya meminta tambahan waktu untuk mengakomodasi fitur tersebut, dengan cepat A berubah menjadi direktur. Saya cukup kebingungan menanggapinya.
Setelah selesai, saya coba bertanya kepada kepala divisi saya mengenai kontrak pekerjaan antara perusahan X dengan Universitas Z. Terutama mengenai pricing, scope pekerjaan dan timeline-nya. Setelah dikorek-korek ternyata penentuan pricing dan timeline dilakukan langsung oleh sang direktur yang notabene bukan orang teknis (berlatar belakang medis).
Kontan saya dibuat kaget. Karena seorang dosen saya saja yang sudah banyak membuat proyek dengan perusahaan besar tidak dengan mudahnya menentukan nilai proyek dan timeline proyek. Tapi mempertimbangkan pula masalah tingkat kesulitan dan scope pekerjaan.
Karena scope pekerjaan kami tidak jelas akhirnya semua orang bisa memberikan pendapat masukan fitur. Yang pada akhirnya membuat kami kesulitan untuk menyesuaikan timeline dan milestone-nya.
Pada akhirnya saya menyesalkan tindakan A yang berkaki dua sehingga terjadilah konflik kepentingan dalam proyek (pekerjaan) yang saya dan tim sedang kerjakan.





